Pages

Selasa, 27 Mei 2014

Jelangkung



JELANGKUNG

“Jelangkung jelangset..   Disini ada pesta, pesta kecil – kecilan
Datang tak dijemput pulang tak diantar.. Datang tak dijemput pulang tak diantar”
  





Jelangkung adalah sebuah permainan tradisional Nusantara yang bersifat ritual supranatural. umumnya dilakukan sebagai ritual untuk memanggil makhluk alam astral. Media yang digunakan untuk menampung makhluk halus atau entitas supranatural yang dipanggil dalam permainan Jailangkung adalah sebuah gayung air yang umumnya terbuat dari tempurung kelapa yang didandani pakaian dan bergagang batang kayu dengan diikatkan alat tulis dibawahnya sebagai alat komunikasi antara pemain dan roh yang “ter”panggil.
            Permainan Jelangkung sendiri merupakan kegiatan ritual yang dimainkan oleh beberapa orang dengan tujuan tertentu yang biasanya berorientasi kepada keuntungan individual maupun bersama dari tiap pesertanya. Permainan ini adalah permainan bernilai magis dimana dalam prosesi permainannya, para pemain membacakan seperti MANTRA yang dapat mendatangkan Roh/Arwah orang yang telah mati.

Dari beberapa sumber, dinegara lainpun permainan jelangkung masih memiliki penggemar dan pelaku ritual, seperti di Cina, Thailand, India bahkan Amerika meskipun sarana dan bahasanya yang agak berbeda tapi tetap saja inti permainannya melibatkan dunia astral. Di negara Indonesia sendiri, Jelangkung sangat fenomenal sekali, entah karena resikonya atau sensasi yang didapat para pemain dalam berhadapan dengan arwah yang dipanggil.




Sejarah Jelangkung
Kata wikipedia,, (kaga tau dah wikipedianye kata syape..) Asal penggunaan istilah "Jelangkung" diduga berhubungan dengan sebuah Kepercayaan tradisional Tionghoa yang telah punah. Ritual ini adalah tentang adanya kekuatan dewa "Poyang" dan "Moyang" (mirip istilah "nenek moyang") yaitu Cay Lan Gong ("篮公", "Dewa Keranjang") dan Cay Lan Tse yang dipercaya sebagai dewa pelindung anak-anak. Permainan Cay Lan Gong juga bersifat ritual dan dimainkan oleh anak-anak remaja saat festival rembulan.
Dalam ritual Cay Lan Gong, dewa "Poyang" dan "Moyang" dipanggil agar masuk ke sebuah boneka keranjang yang tangannya dapat digerakkan. Pada ujung tangan boneka tersebut diikatkan sebuah alat tulis, biasanya kapur. Boneka tersebut juga dihiasi dengan pakaian manusia, dikalungi kunci dan dihadapkan ke sebuah papan tulis, sembari menyalakan dupa. Saat boneka tersebut menjadi terasa berat menurut mereka menjadi pertanda bahwa boneka itu telah dirasuki dewa, dan bergerak mengangguk sebagai pertanda setuju setelah ditanyakan siap tidaknya untuk ditanyai, jawaban-jawaban dari pertanyaan yang diajukan akan dituliskan oleh dewa yang merasuki boneka tersebut pada papan tulis yang disediakan.
Ritual ini dalam perkembangannya di Indonesia mulai digunakan untuk hal-hal selain permainan belaka, seperti untuk mencari informasi tentang diagnosa penyakit, pengobatan, cari jodoh, minta wangsit, minta togel dan macem sebagainya.  (Jangan ampe Musyrik  loh!!)



Versi Jawa
Versinye orang Jawa, permainan Jailangkung dikenal dengan sebutan "Nini Thowong" atau "Nini Thowok". Permainan ini tidak hanya dikenal sebagai permainan tradisional anak-anak, tapi juga dilakukan sebagai usaha menjaga keselamatan desa dan menolak bala. Untuk tujuan tersebut, ritual ini dilakukan bukan oleh anak kecil, melainkan orang yang sudah dewasa.
Versi Jawanya juga dapat dimainkan dengan menggunakan peralatan tulis jangka. Versi permainan yang berkembang di daerah-daerah khususnya di pulau jawa, umumnya dahulu dimainkan di desa-desa dengan menggunakan medium orang-orangan sawah untuk memanggil makhluk halus ataupun arwah orang mati.
Versi Minangkabau
Ritual serupa yang dikenal orang Minangkabau disebut "Lukah Gilo". Permainan ini berkembang dalam bentuk seni pertunjukan di Desa Lumpo Timur, Kecamatan Ampek Balai Juran, Kabupaten Pesisir Selatan. Pertunjukan ini dimainkan oleh seorang pawang atau "Dukun Lukah" dan satu sampai empat orang pemain yang bertugas memegang "lukah" tersebut. "Lukah" adalah alat untuk menangkap ikan air tawar yang terbuat dari bambu yang dianyam, bentuknya menyerupai vas bunga. Keranjang "Lukah" ini digunakan untuk pertunjukan Lukah Gilo dengan mendandaninya menyerupai orang-orangan seperti halnya dalam permainan Cay Lan Gong. Tangannya dibuat dari kayu lurus atau bambu, dan kepalanya dibuat dari labu atau tempurung kelapa. "Lukah" itu juga dirias dengan kain, baju, selendang, korset, dan wajahnya dirias layaknya perempuan.
"Lukah" tersebut kemudian dibisiki mantra oleh pawangnya hingga menjadi "gila" karena bergerak kian kemari. Gerakan itu akan semakin menjadi-jadi setiap kali pawang membaca mantra. Yang menjadi tontonan dalam pertunjukan ini adalah para pemain yang memegang lukah itu. Mereka akan terbawa kian kemari seiring semakin meng"gila"nya "lukah" tersebut. Penonton pun akan menyoraki pemain agar suasana semakin ramai. Gerakan "lukah" tersebut baru akan berhenti apabila pawang berhenti memantrainya atau ada seseorang yang memasang "ijok", yaitu bagian dalam dari ekor lukah.
Pertunjukan "Lukah Gilo" ini biasanya dipertunjukkan pada acara perkawinan atau acara-acara khusus untuk yang diadakan masyarakat Minangkabau setempat. Waktu pertunjukan umumnya dilakukan pada malam hari yang diyakini lebih mudah untuk memanggil makhluk halus. (Kalo siang mahh panas katanye sob..! haha)
Cara memainkan

Kalo lu pade takut, mendingan langsung minum cucu trus tidur dah!! Jangan ampe nyoba ataupun cuman sekedar iseng2 berhadiah…. Sebab Jelangkung lebih berbahaya daripada rokok yang menyebabkan impotensi, serangan jantung, kangker  gangguan kehamilan dan janin.
           

Mantra original dalam permainan Jelangkung

* Dalam Bahasa Jawa *
  • ''Hong Hiyang Ilaheng Hen Jagad Alusan Roh Gentayangan Ono'e Jaelangkung Jaelengsat siro Wujud'e Ning kene Ono Bolon'e Siro Wangsul Angslupo Yen Siro Teko Gaib Wenehono Tondo Ing Golek Bubrah Hayo Enggalo Teko Pangundango Hayo Ndang Angslupo Ing Rupo Golek Wujud..Wujud..Wujud"
* Dalam Bahasa Sunda *
  • "Jaelangkung, Jalangset Ka Sungsang Judah Mulang Balik Sung Sang Sang Sida Mulang Nu Goreng Ka pulang wereng aya maung pundung dating ampun badak goreng datang nyembah, jaelangkung jaelangse upih buruk ngarumpuyuk patulakan sia ku awak aing, asal ti wetan malik ka wetan, asal ti kulon malik ka kulon, asal ti kaler malik ka kaler, asal ti kidul malik ka kidul, asal tihandap malik ka handap, asal ti cai malik ka cai.
* Dalam Bahasa Indonesia Yang Benar *
  • "Jalangkung Jalangset Di Sini Ada Pesta Pesta Kecil-Kecilan Jalangkung Jalangsete Dateng Ga Di Jemput Pulang Tak Di Antar "
* Syarat Dan Ketentuan Berlaku* Untuk Jawa Dan Sunda Bebas Roaming. Luar jawa dikenakan biaya tambahan sesuai tarif.
  • Boneka Kayu, Boneka Batok, Boneka Jerami. Dan Tanah Liat Kuburan.
  • Sediakan Sesajen Komplit.
  • Kembang 7 Rupa
  • Kopi Pahit Dan Manis, Teh Pahit Dan Manis, Air Putih, ( Semua 1 Gelas2 )
  • Minyak Misik, zafaron, Rose, Kmbang Setaman ( Masing" 1 Tets )
  • Dupa, Buhur Magribi Dan Menyan ( cukup satu2 saja di bkar semua saat pemanggilan )
  • Jajanan Pasar 7 rupa ( Kue2 Basah, Atau Gorengan)
* Ketentuan :
  • Harus Di KerJakan Pada Jam 9 Malam ( kaga boleh kurang )
  • Peserta harus ganjil minimal 5 orang. ( 1 baca mantra dan 4 pegangin bonekanya )
  • Tidak boleh lari, pinsan atau apapun saat gaib datang.
  • Jangan coba2 lari saat makhluk gaibnya datang. ( berakibat fatal brad..)
  • Mainya di kebun, rumah kosong, tempat angker dan tempat2 yang besar kemungkinan banyak makhluk alusnye brad..
Saat gaib datang maka biasanya di tandai dengan gerakan boneka dan angin kencang, gaib yg datang Bisa berupa setan2 sekitar yg sedang ngerumpi, bisa kuntilanak, pocong, gendruwo, jin dll. Tergantung sesajen yg di sediakan. bila sesajen semakin mahal dan istimewa maka biasanya Jin Atau Gendruwo. kalo sesajen standar biasanya setan2 klonengan sekitar.Agan bisa berintraksi dngan gaib2 yg datang.

Dan ingat permainan ini bukan berarti aman dan tidak ada resiko. kalo yg dtang cuma setan klonengan Maka mereka akan datang bergantian. tapi kalo yg datang jin ato gendruwo maka mereka akan minta Syarat. biasanya berupa darah ayam jago kampung ato ayam cemani. dan bila tak di beri maka dia tdk Mao pergi dan agan2 semua bisa kesurupan masal.



Warning : Gue ingetin ama lu semuanye,, yg belom kuat iman  maupun imin,  jangan   coba2 apalagi cuman iseng2 berhadiah,,,,,,   sebab kalo kaga kuat,, lu pade Bisa MENINGGAL DUNIA ATAU SAKIT BEBERAPA HARI ATAU BUlAN

Oiya Bray Dari INFO Yang Saya Dapat Kalau Ada Salah Satu Pemain Kabur Saat Permainan Berlangsung Berkemungkinan Pemain Yang Kabur Seumur Hidupnya Akan Di Hantui Oleh Setan / Jin Yang Telah Mereka Panggil Ke Tubuh Boneka Jalangkung Tersebut. Jangan Takut Dan Panik Bila Ghaib Atau Setan Yang Anda Panggil Datang Dan Mendekati Diri Anda......!!!



@berbagai  sumber brad!!

Syekh Magelung sakti



Syekh Magelung Sakti





Syekh Magelung Sakti alias Syarif Syam alias Mohammad syam alias Pangeran Soka alias Pangeran Karangkendal. Konon Syekh Magelung Sakti berasal dari negeri Syam (Syria), hingga kemudian dikenal sebagai Syarif Syam.

Berbeda dengan yang lain, ternyata, rambut Arifin Syam yang akhirnya dikenal sebagai Mohammad Syam Magelung Sakti, tak pernah bisa dipotong sejak lahir ….
Syarif Syam memiliki rambut yang sangat panjang, rambutnya sendiri panjangnya hingga menyentuh tanah, oleh karenanya ia lebih sering mengikat rambutnya (gelung). Sehingga kemudian ia lebih dikenal sebagai Syekh Magelung (Syekh dengan rambut yang tergelung).

Beliau juga tergolong bocah yang jenius, tak salah jika pada usia 7 tahun, di kalangan guru dan Para pendidiknya ia telah menyandang panggilan sebagai sufi cilik. Agaknya inilah yang menyebabkan kenapa di kala itu ia menjadi anak yang diperebutkan di kalangan guru besar di seluruh negara bagian Timur Tengah, bahkan di usia 11 tahun, ia telah mampu menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda di berbagai tempat ternama, misalnya Madinah, Makkah, istana raja Mesir, Masjidil Agso, Palestina, dan berbagai tempat ternama lainnya.
Walau begitu, ia banyak dihujat oleh ulama fukkoha, maklum, kian hari rambutnya kian memanjang tak terurus, sehingga dalam pandangan para ahlul fikokkha, Arifin Syam, terkesan bukan sebagai seorang pelajar sekaligus pengajar religius yang selalu mengedepankan tatakrama. Pelecehan dan hinaan yang kerap diterimanya, membuat Arifin Syam mengasingkan diri selama beberapa tahun di salah satu goa di daerah Haram, Mekah.
Sejatinya bukan karena Arifin Syam tak mau mencukur rambutnya yang lambat laun jatuh menjuntai ke tanah, tapi apa daya, walau telah ratusan bahkan ribuan kali berikhtiar ke belahan dunia lain, tetapi, ia belum pemah mendapatkan seseorang yang mampu memotong rambutnya itu. Menurut tutur yang berkembang, sejak dilahirkan ke alam dunia, rambut Arifin Syam memang sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda tajam apapun. Dan kisah ini terus berlanjut hingga dirinya mencapai usia 40 tahun.
Dan pada usia 30 tahun, Arifin Syam diambil oleh istana Mesir untuk menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan Tartar. Dari sinilah namanya mulai masyhur di kalangan masyarakat luas sebagai panglima perang tersakti di antara para panglima perang yang ada sebelumnya. Betapa tidak, jika kala itu kepiawaian seorang panglima perang bisa terlihat pada saat mengatur strategi perang serta keandalannya memainkan pedang, tombak serta ketepatan dalam memanah. Berbeda dengan Arifin Syam yang akhimya dikenal dengan sebutan Panglima Mohammad Syam Magelung  Sakti, ia selalu mengibaskan rambutnya yang panjang dan keras mirip kawat baja ke arah musuh-musuhnya. Akibatnya sudah dapat diduga, para musuh tak ada yang berani mendekat, dan lari pontang-panting karenanya. Sampai di usia 32 tahun, selama 12 tahun kemasyhurannya sebagai sosok panglima perang berambut sakti itu benar-benar tak tertandingi. Hingga pada usia 34 tahun ia bertemu langsung dengan Nabiyulloh Khidir AS, yang mengharuskannya mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya untuk menuju maqom kewalian kamil.
Dan tanpa banyak pertimbangan, ia langsung meninggalkan istana raja Mesir yang saat itu benar-benar amat membutuhkan tenaganya. Tak hanya itu, bahkan ia juga rela meninggalkan seluruh murid-rnuridnya yang ingin lebih mengenal atau mendalami ilmu-ilmu Allah SWT.
Dengan perbekalan secukupnya dan berteman ratusan kitab, Mohammad Syam Magelung Sakti pun mulai mengarungi belahan dunia dengan menggunakan jukung (sejenis perahu kecil bercadik). Dalarn perjalanan kali ini, ia pun mulai
singgah dan bahkan mendatangi beberapa ulama terkenal untuk menerimanya sebagai murid, di antaranya:
 Syeikh Dzatul Ulum di Libanon, Syeikh Attijani di Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin Subhan bin Arsy di Beirut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan  India, Syeikh Muaiwiyyah As- Salam, Malaita, Syeikh Mahmud, Yarussalem, Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan Siddrul Muta’alim, Campa, dan masih banyak yang lainnya.
Tapi, walau begitu banyak Para waliyulloh yang didatangi, tak satupun di antara mereka yang mau menerimanya. Karena hampir semuanya berkata, “Sesungguhnya akulah yang meminta agar menjadi muridmu wahai sang Waliyulloh. “
Dengan perasaan kecewa yang teramat mendalam, akhirnya, beliau pun mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari guru mursyid yang diinginkannya.



Kisah terpotongnya rambut Syarif syam

“..........datanglah segera ke kota Cirebon, temuilah Syarif Hidayatulloh. Sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja dengan maqom Quthbul Muthlak,”.

Waktu terus berjalan pada porosnya, hingga suatu hari, beliau bertemu dengan seorang pertapa sakti bangsa Sanghyang yang bemama Resi Purba Sanghyang Dursasana Prabu Kala Sengkala, diperbatasan selat Malaka. “Wahai Kisanak, datanglah ke pulau Jawa. Sesungguhnya disana telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh waliyulloh, benamkan hati dan pikiranmu di telapak kakinya, sesungguhnya beliau mengungguli semua  waliyulloh yang ada,” katanya dengan santun.
Mendengar itu, beliau sangat senang dan seketika minta diri untuk langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke Pulau Jawa. Dan setibanya di pesisir Pulau Jawa, beliau pun singgah di suatu pedesaan sambil tiada hentinya bertafakur memohon kepada Allah SWT agar dirinya dapat dipertemukan dengan mursyid yang selama ini diimpi-impikannya. Dan tepat pada malam Jum’at Kliwon, di tengah keheningan malam, tiba­-tiba beliau dikejutkan oleh uluk salam dari seseorang “Assalamu’alaikum Ya Akin ‘min ahli wilayah.” Dengan serta merta dan sedikit gugup, beliau pun menjawabnya, “Waalaikum’salam Ya Nabiyulloh Khidir AS yang telah membawaku ke pintu Rohmatallil’alamin,
“Lima tahun sudah mencari ridhoku dan kini ananda telah mendapatkannya. Untuk itu datanglah segera ke kota Cirebon, temuilah Syarif Hidayatulloh. Sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja dengan maqom Quthbul Muthlak,” terang Nabiyulloh Khidir AS sambil menghilang dari pandangannya.
Tak perlu berlama-lama, dengan semangat yang menggebu beliau pun langsung mengayuh jukung-nya menuju Cirebon.
Sementara, di tempat lain, lewat maqom-nya Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati sudah mengetahui kedatangan Mohammad Syam Magelung Sakti. Seketika, beliau langsung mengutus uwak sekaligus mertuanya, Mbah Kuwu Cakra Buana untuk menjemput tamunya di pelabuhan Cirebon.
Singkat cerita, setibanya di tempat pertemuan yang telah ditentukan oleh Sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu sengaja tidak langsung menghadapkan tamunya kepada Syarif Hidayatulloh tetapi mengujinya terlebih dahulu. Dalam pemahaman ilmu Tauhid, hal semacam ini biasa dikenal dengan Tahkikul ‘Ubudiyyah FissifatirRobbaniah yang artinya adalah meyakinkan tingkat ke-walian seseorang dan Nur Robbani yang dipegangnya.
Manakala sang tamu Mohammad Syam Magelung Sakti berhadapan dengan Mbah Kuwu Cakra Buana, beliau pun langsung uluk salam dan bertanya, “Wahai Kisanak, tahukah Andika di mana saya bisa bertemu dengan Sunan Gunung Jati?”
Alih-alih dijawab, Mbah Kuwu malah balik bertanya, “Sudahkah Kisanak mendirikan sholat Dhuhur setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh itu?”
Mohammad Syam langsung mengangguk dan mengakui bahwa dirinya memang belum melaksanakan sholat Dhuhur. Mbah Kuwu pun langsung mengambil satu bumbung (mas bambu-Ted) kecil dan berkata “Masuk dan sholat-lah berjamaah denganku’.
Sambil terheran-heran, Mohammad Syam mengikuti langkah-manusia aneh di hadapannya yang tak lain adalah Mbah Kuwu Cakra Buana, dan masuk ke dalam bumbung – yang di dalamnya ternyata sangat luas dan terdapat sebuah musholla besar yang sangat anggun.
Seusai mendirikan sholat Dhuhur, Mbah Kuwu pun mengajak tamunya menuju kota Cirebon. Tetapi, sebelum sampai di tujuan, atas hawatif yang diterimanya dari Sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu langsung memotong rambut tamunya dan seketika menghilang dan hadapan Mohammad Syam Magelung Sakti. Tahu rambutnya telah terpotong, Mohammad Syam Magelung Sakti berkeyakinan bahwa manusia tadi (sejatinya adalah Mbah Kuwu), pastilah Sunan Gunung Jati. Dengan serta merta, beliau langsung memanggilnya tiada henti ….
Karena tak mendapat sahutan, maka, dengan bersemangat Mohammad Syam terus mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya sudah mampu memotong rambutnya itu  hingga sampai pada suatu tempat, dan tanpa sadar beliau masuk di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang mengikuti perlombaan untuk mendapatkan seorang putri nan cantik jelita, Nyimas Gandasari Panguragan.
Tanpa sadar, kakinya yang terus melangkah itu masuk ke tengah-tengah arena syaembara yang diadakan oleh Ki Ageng Selapandan yang juga adalah Ki Kuwu Cirebon waktu itu dikenal juga dengan sebutan Pangeran Cakrabuana (masih keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Hindu Pajajaran), yang berkeinginan agar anak angkatnya, Nyi Mas Gandasari, segera menikah.  Karena Meskipun telah banyak yang meminangnya, ia tidak bisa menerimanya begitu saja dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan. Oleh karenanya kemudian ia pun mengadakan sayembara untuk maksud tersebut, sejumlah pangeran, pendekar, maupun rakyat biasa dipersilakan berupaya menjajal kemampuan kesaktian sang putri. Siapapun yang sanggup mengalahkannya dalam ilmu bela diri maka itulah jodohnya. Banyak diantaranya pangeran dan ksatria yang mencoba mengikutinya tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Seperti Ki Pekik, Ki Gede Pekandangan, Ki Gede Kapringan serta pendatang dari negeri Cina, Ki Dampu Awang atau Kyai Jangkar berhasil dikalahkannya.
Mengetahui ada lawan baru yang masuk ke arena, (Syarif syam) seketika, Nyimas Gandasari pun langsung menyerangnya. Mendapatkan dirinya diserang secara mendadak, Mohammad Syam pun langsung mengelak dan mencoba menjauhkan diri. Belum sempat bertanya lebih jauh, Nyimas Gandasari yang kala itu sedang diperebutkan para jawara dan berbagai pelosok daerah sangat tersinggung dengan ulahnya yang terus menghindar dan  kembali melakukan serangan beruntun. Dengan perasaan dongkol, akhimya, Mohammad Syam memutuskan untuk melayani
lawannya dengan bersungguh hati. Menurut tutur, puluhan bahkan ratusan jurus maut telah dikeluarkan., Lama kelamaan, merasa kesaktiannya masih, berada di bawah pemuda asing yang
sedang dihadapinya, maka, dengan sekali loncatan Nyimas Gandasari pun berucap”Ya Kanjeng Susuhunan Sunan Gunung Jati, Yajabarutihi ila sulthonil alam, Kun Fayakun Lailaha Illalloh Muhammad Rosululloh,” badannya langsung terbang ke awang-awang dengan harapan sang lawan tak mampu mengejamya.
Berbeda dengan Mohammad Syam, mendengar nama Sunan Gunung Jati disebut, sontak hatinya tercekat. Beliau yakin, lawannya past tahu keberadaan manusia pilihan yang tengah dicarinya itu. Dan tanpa menemui banyak kesulitan, beliau langsung dapat menyusul Nyimas Gandasan bahkan berhasil menangkap tangan kanannya. Dengan panik, akhimya, Nyimas Gandasari berhasil melepaskan pegangan sang lawan dan tubuhnya pun menukik tajam  pada saat yang sama, Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur di sungai Kalijaga, kedatangan Nyimas Gandasari dengan wajah pucat pasi sambil menuding ke arah sang lawan. Ia memohon kepada gurunya agar si  pemuda yang mengejamya tidak melihat keberadaannya.
Dengan izin Allah SWT, dalam hitungan detik, tubuh Nyimas Gandasari berubah menjadi kecil dan bersembunyi di bawah bakiak (terompah terbuat dari kayu) Kanjeng Sunan Gunung Jati yang serta merta bertanya pada pemuda yang baru saja ada di hadapannya, “Wahai Kisanak, apa yang Andika cari di tempat yang sepi ini?
Dengan santun, Mohammad Syam pun menjawab, “Mohon maaf Kisanak, sesungguhnya saya datang ke tempat ini untuk mencari seorang gadis dan meminta bantuannya agar dapat bertemu dengan Sunan Gunung Jati “
Sambil tersenyum, akhirya Sunan Gunung Jati mengembalikan wujud Nyimas Gandasari dan mengingatkan agar yang bersangkutan memenuhi janjinya untuk menikah dengan orang yang mampu mengalahkan kesaktiannya. Dalam perjalanan ini, akhimya Mohammad Syam berganti nama menjadi Pangeran Soka. Dan di penghujung cerita Pangeran Soka dan Nyimas Gandasari akhirriya berikrar untuk meneruskan perjalanan hidupnya menuju ilmu tuhid yang lebih matang hingga mereka berdua mufakat menjalankan nikah bisirri tanpa hubungan badan layaknya suami istri, namun akan bersatu dengan Nikah Hakikiyah kelak di alam surga dengan disaksikan langsung oleh Sunan Gunung Jati Min Quthbil Muthlak ila Jami’il Waliyulloh

Setelah berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon, Syarif Syam alias Syekh Magelung Sakti diberi tugas mengembangkan ajaran Islam di wilayah utara. Ia pun kemudian tinggal di Karangkendal, Kapetakan, sekitar 19 km sebelah utara Cirebon, hingga kemudian wafat dan dimakamkan di sana hingga kemudian ia lebih dikenal sebagai Pangeran Karangkendal.
Sesuai cerita yang berkembang di tengah masyarakat atau orang-orang tua tempo dulu, pada masa lalu Syekh Magelung Sakti menundukkan Ki Gede Tersana dari Kertasemaya, Indramayu, sehingga anak buah Ki Tarsana tersebut yang berupa makhluk halus pun turut takluk. Namun, makhluk gaib melalui Ki Tersana meminta syarat agar setiap tahunnya diberi makan berupa sesajen rujak wuni. Dari cerita inilah selanjutnya, tradisi menyerahkan sesajen daging mentah tersebut berlangsung setiap tahun di Karangkendal.

Kini, tempat terpotongnya rambut Syeikh Magelung Sakti, masih dilestarikan sebagai nama salah satu desa, yakni Desa Karanggetas, yang letaknya di sebelah selatan Kantor Walikota Cirebon. Dan tahukah Anda berapa panjang rambut Syeikh Magelung Sakti, sesungguhnya? Temyata, 340 m, atau sepanjang Jalan Karang Getas, antara perbatasan Desa Pagongan hingga lampu merah Pasar Kanoman. Dan panjang rambut Syeikh Magelung Sakti ini sudah mendapat persetujuan sekaligus restu dari beberapa ulama khosois, misalnya, Syeikh Aulya’ Nur Ali, Syeikh Kamil Ahmad Trusmi, Syeikh Ahmad Sindang Laut, SyeikhAsnawi bin Subki Gedongan.
Selain berjasa dalam syiar Islam di Cirebon dan sekitarnya, Syarif Sam dikenal sebagai tokoh ulama yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi pada zamannya. Ia membangun semacam pesanggrahan yang dijadikan sebagai tempat ia melakukan syiar Islam dan mempunyai banyak pengikut. Sampai dengan akhir hayatnya, Syekh Magelung Sakti dimakamkan di Karangkendal, dan sampai sekarang tempat tersebut selalu diziarahi orang dari berbagai daerah.
Di situs makam Syekh Magelung Sakti terdapat sumur peninggalan tokoh ulama tersebut, padasan kramat, depok (semacam pendopo) Karangkendal, jramba, kroya, pegagan, dukuh, depok Ki Buyut Tersana, dan pedaleman yang berisi pesekaran, paseban, serta makam Syekh Magelung Sakti sendiri.
Berjauhan dengan makam suaminya Syekh Magelung Sakti, makam Nyi Mas Gandasari terdapat di Panguragan, sehingga ia kemudian dikenal juga sebagai Nyi Mas Panguragan.


@berbagai sumber brad..